26.2 C
Tangerang
Sunday, 21 July, 2024
spot_img

Jeritan Permintaan

 

Membaca teks Injil pada hari ini seperti membaca kekalutan hidup yang dirasakan oleh orang kusta. Kehidupan orang kusta serba tak menentu dan  terdepak dari ruang publik. Kusta adalah kutukan dari Allah dan tak bisa disembuhkan. Pandangan ini terbentuk dalam benak hidup orang Yahudi dan karenanya setiap orang yang terkena penyakit kusta, adalah dia yang terkena kutukan dari Allah dan sekaligus mendapatkan sanksi sosial, yakni dikeluarkan dari masyarakat.

Bisa dibayangkan, bagaimana sikap batin seorang yang terkena kusta? Sejarah perjalanan hidup orang kusta menemukan titik kelam. Demi anggota masyarakat agar tidak ternoda oleh penyakit berbahaya ini maka para kusta disingkirkan di hutan sebagai cara “mematikan” mereka secara perlahan. Kisah hidup orang kusta seperti dalam Injil hari ini mendapatkan perhatian dari Yesus. Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Mrk 1:40)

Kata-kata yang keluar dari mulut seorang kusta tidak lain adalah jeritan permintaan dan menggugah kesadaran Yesus untuk melakukan tindakan yang menyelamatkan. Atas dasar cinta dan belas kasih, Yesus menyembuhkan juga seorang yang berpenyakit kusta. Kisah penyembuhan ini mau memperlihatkan bahwa kusta yang sulit disembuhkan, terpatahkan oleh jamahan kasih Sang Tabib. Dengan penyembuhan ini berarti ada upaya untuk mengembalikan mantan penderita kusta ke dalam rumah dan masyarakat. Ada kelegaan batin tersirat dalam hati seorang kusta yang baru disembuhkan itu.

Tentang kusta ini, penulis teringat akan seorang pahlawan Molokai, Santo Damian. Di pulau terpencil itu menjadi tempat pembuangan orang-orang kusta. Damian yang saat itu menjadi seorang imam, terus melakukan kunjungan dan merayakan Ekaristi untuk mereka. Damian tetap semangat untuk memberikan pelayanan, walaupun dia tahu bahwa kusta itu penyakit menular dan berbahaya. Damian pada akhirnya terkena kusta dan mati di tengah orang-orang kusta yang dilayaninya. Hidup seorang Damian mencontohi kehidupan Yesus yang selalu berkorban untuk orang lain. Yesus mengakhiri misi penyelamatan-Nya melalui salib dan Damian mengakhiri misi perutusan sebagai imam melalui pengorbanannya bersama para kusta. Kematiannya menjadi berharga di mata Tuhan.***(Valery Kopong)

 

Previous article
Next article

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

imankatolik.or.id
Kalender bulan ini

Popular