Suasana berbeda terasa di Gereja St. Gregorius Agung pada Minggu, 23 Agustus 2026. Perayaan Misa Inkulturasi Kalimantan Barat berlangsung dengan nuansa budaya yang kental, sekaligus menjadi bagian dari upaya penggalangan dana bagi Paroki St. Gregorius Agung.
Sebagian umat berdatangan dengan mengenakan pakaian adat maupun pernak-pernik khas Kalimantan Barat. Kehadiran mereka tidak sekadar memperindah suasana perayaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman budaya dapat hadir dan hidup dalam persekutuan umat. Antusiasme umat tampak sepanjang perayaan, terutama ketika unsur-unsur budaya Kalimantan Barat dipadukan secara harmonis dalam liturgi.
Perayaan Misa dipimpin oleh Romo Salto, Romo Sisko, Romo Meriko, dan Romo Yudha. Nuansa inkulturasi semakin terasa melalui iringan musik khas Kalimantan Barat yang mengiringi lagu-lagu koor. Alunan musik tradisional memberikan warna tersendiri dalam perayaan, membuat suasana liturgi terasa dekat dengan kekayaan budaya.
Salah satu momen yang menarik perhatian umat terjadi ketika Romo Sisko turut memainkan sape, alat musik petik tradisional yang dikenal sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Kalimantan. Kehadiran sape dan alat musik lainnya dalam perayaan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari pertunjukan budaya, tetapi juga memperlihatkan bahwa tradisi dapat menemukan ruangnya dalam kehidupan gereja.
Misa Inkulturasi ini pada akhirnya tidak berhenti pada kemeriahan budaya. Setelah Misa selesai, rangkaian kegiatan berlanjut dengan acara budaya yang menjadi inti dari penggalangan dana. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi umat untuk berkumpul, menikmati kekayaan budaya Kalimantan Barat, sekaligus mengambil bagian dalam upaya mendukung kebutuhan dan keberlangsungan pelayanan di Paroki St. Gregorius Agung. Penggalangan dana yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian umat terhadap keberlangsungan pelayanan dan kehidupan bersama di Paroki St. Gregorius Agung.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa Gereja dapat hadir di tengah keberagaman tanpa kehilangan makna persekutuannya. Budaya tidak hanya dikenalkan sebagai warisan, tetapi juga dihidupkan melalui kebersamaan umat. Dari sebuah perayaan Misa, umat diajak untuk melihat bahwa iman dan budaya dapat berjalan beriringan, sekaligus menjadi jalan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

